Cara Menghitung Kebutuhan Tenaga Kerja, 5 Langkah Akurat
Cara menghitung kebutuhan tenaga kerja proyek konstruksi sebenarnya bertumpu pada satu rumus sederhana, volume pekerjaan dikalikan koefisien tenaga kerja, lalu dibagi target durasi…
Achsan Bana ST 6 menit baca
Cara menghitung kebutuhan tenaga kerja proyek konstruksi sebenarnya bertumpu pada satu rumus sederhana, volume pekerjaan dikalikan koefisien tenaga kerja, lalu dibagi target durasi.
Hasilnya adalah jumlah orang yang harus Anda siapkan setiap hari. Koefisiennya bukan karangan, sudah dibakukan dalam SNI dan pedoman AHSP Kementerian PUPR.
Masalahnya, di lapangan masih banyak yang menentukan jumlah tukang berdasarkan perasaan.
“Kayaknya cukup 4 tukang”, lalu proyek molor dua bulan, atau sebaliknya, terlalu banyak orang menganggur di lokasi sementara upah harian tetap jalan.
Di artikel ini saya uraikan cara menghitung kebutuhan tenaga kerja secara terukur: rumusnya, tabel koefisien SNI yang bisa langsung dipakai.
Contoh kasus lengkap pekerjaan dinding rumah 60 m², sampai faktor koreksi lapangan yang jarang dibahas tapi sangat menentukan.
Rumus Cara Menghitung Kebutuhan Tenaga Kerja
Ada dua rumus inti yang saling melengkapi.
Rumus 1 — mencari total beban kerja.
Total OH = Volume pekerjaan × Koefisien tenaga kerja
Rumus 2 — mencari jumlah orang per hari.
Jumlah orang = Total OH ÷ Target durasi (hari kerja)
Rumus kedua bisa dibalik. Kalau jumlah tukang sudah tetap dan yang ingin Anda ketahui adalah lamanya pekerjaan, tinggal ubah menjadi.
Durasi = Total OH ÷ Jumlah orang
Dua arah ini yang paling sering dipakai saat menyusun jadwal proyek.
Memahami Satuan OH
OH atau orang-hari adalah satuan beban kerja, bukan satuan jumlah orang.
Nilai 10 OH berarti pekerjaan itu setara dengan satu orang bekerja selama 10 hari atau 5 orang selama 2 hari, atau 10 orang selama 1 hari.
Satu OH dihitung setara 7–8 jam kerja efektif. Ini penting, jam efektif bukan jam hadir.
Waktu persiapan alat, istirahat, dan bersih-bersih sudah diperhitungkan di dalam koefisien standar.
Dalam cara menghitung kebutuhan tenaga kerja, koefisien adalah angka OH yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu satuan volume pekerjaan.
Misalnya koefisien tukang batu 0,100 OH per m² artinya satu tukang batu sanggup menyelesaikan 1 ÷ 0,100 = 10 m² per hari.
Tabel Koefisien untuk Menghitung Kebutuhan Tenaga Kerja
Berikut koefisien yang paling sering saya pakai di proyek rumah tinggal, dikutip langsung dari dokumen SNI resmi.
|
Jenis Pekerjaan |
Satuan | Pekerja | Tukang | Kepala Tukang |
Mandor |
| Pasang dinding bata merah ½ bata (1PC:4PP) | m² | 0,300 | 0,100 | 0,010 | 0,015 |
| Plesteran 1PC:4PP tebal 15 mm | m² | 0,300 | 0,150 | 0,015 | 0,015 |
| Acian | m² | 0,200 | 0,100 | 0,010 | 0,010 |
| Beton f’c 14,5 MPa (K-175) | m³ | 1,650 | 0,275 | 0,028 | 0,083 |
| Pembesian besi polos/ulir | 10 kg | 0,070 | 0,070 | 0,007 | 0,004 |
| Bekisting kolom | m² | 0,660 | 0,330 | 0,033 | 0,033 |
Sumber: SNI 6897:2008 (dinding), SNI 2837:2008 (plesteran), dan SNI 7394:2008 tentang pekerjaan beton.
Untuk proyek pemerintah, acuan resminya adalah Permen PUPR No. 1 Tahun 2022 tentang Pedoman Penyusunan Perkiraan Biaya Pekerjaan Konstruksi.
5 Langkah Cara Menghitung Kebutuhan Tenaga Kerja
1. Hitung Volume Setiap Item Pekerjaan
Pisahkan pekerjaan per jenis, jangan digabung. Dinding, plesteran, acian, dan pengecatan punya koefisien berbeda meski berada di bidang yang sama.
Metodenya serupa dengan cara menghitung kebutuhan material bangunan bedanya di sini yang dicari OH, bukan sak semen.
2. Ambil Koefisien yang Sesuai Spesifikasi
Perhatikan detailnya. Dinding ½ bata dan 1 bata koefisiennya berbeda dua kali lipat.
Plesteran tebal 15 mm berbeda dengan 20 mm. Salah pilih baris di tabel, hasil hitungan langsung meleset.
3. Kalikan Volume dengan Koefisien
Lakukan per jenis tenaga: pekerja, tukang, kepala tukang, mandor.
Jangan dijumlahkan jadi satu angka, karena komposisi regu kerja bergantung pada rasio antar jenis tenaga ini.
4. Bagi dengan Target Durasi
Inilah langkah yang mengubah beban kerja menjadi kebutuhan tenaga kerja harian.
Tentukan dulu berapa hari kerja yang Anda targetkan, baru bagi total OH dengan angka itu.
Ingat, hari kerja bukan hari kalender. Dengan libur Minggu, satu bulan kalender umumnya hanya berisi 25–26 hari kerja.
5. Bulatkan Menjadi Komposisi Regu Kerja
Hasil pembagian hampir selalu berupa pecahan. Bulatkan ke atas untuk tenaga inti (tukang dan pekerja), dan gabungkan peran yang nilainya kecil.
Mandor 0,4 orang tidak berarti Anda menyewa setengah mandor, melainkan satu mandor yang juga mengawasi pekerjaan lain.
Contoh Pekerjaan Dinding Rumah 60 m²
Mari praktikkan cara menghitung kebutuhan tenaga kerja pada rumah tipe 60 satu lantai. Volume yang sudah dihitung dari gambar kerja.
- Pasangan dinding bata merah ½ bata: 180 m²
- Plesteran dua sisi 360 m²
- Acian dua sisi 360 m²
Langkah 3, kalikan volume dengan koefisien.
|
Pekerjaan |
Volume | Pekerja (OH) |
Tukang (OH) |
| Pasangan dinding | 180 m² | 180 × 0,300 = 54 | 180 × 0,100 = 18 |
| Plesteran | 360 m² | 360 × 0,300 = 108 | 360 × 0,150 = 54 |
| Acian | 360 m² | 360 × 0,200 = 72 | 360 × 0,100 = 36 |
| Total | 234 OH | 108 OH |
Kepala tukang terkumpul 10,8 OH dan mandor 11,7 OH.
Langkah 4, bagi dengan target durasi 30 hari kerja:
|
Jenis Tenaga |
Total OH | ÷ 30 hari |
Dibulatkan |
| Pekerja | 234 | 7,80 | 8 orang |
| Tukang batu | 108 | 3,60 | 4 orang |
| Kepala tukang | 10,8 | 0,36 | 1 orang |
| Mandor | 11,7 | 0,39 | 1 orang |
Hasilnya, 12 tenaga inti + 1 kepala tukang + 1 mandor, dengan rasio pekerja terhadap tukang 2:1, komposisi yang memang lazim untuk pekerjaan dinding.
Coba hitung ulang, 4 tukang batu memikul 108 OH, berarti 108 ÷ 4 = 27 hari.
Masih di bawah target 30 hari, jadi hitungan ini masuk akal. Kalau durasi ingin dipangkas jadi 20 hari, kebutuhan naik menjadi 12 pekerja dan 6 tukang.
Satu catatan jujur, ketiga pekerjaan itu berurutan, bukan serentak. Dinding harus kering sebelum diplester.
Karena itu regu di atas hanya efisien bila pekerjaan dibagi per zona, misalnya tukang mulai memplester zona A sementara zona B baru dipasang batanya.
Ini juga yang saya jelaskan di cara menentukan lamanya bangun rumah.
Faktor Koreksi Lapangan yang Wajib Ditambahkan
Hasil cara menghitung kebutuhan tenaga kerja di atas masih berupa angka ideal.
Koefisien SNI disusun untuk kondisi normal, tenaga terampil, akses lancar, cuaca mendukung.
Kenyataan di lapangan jarang seideal itu. Dari pengalaman saya di proyek-proyek Medan dan sekitarnya, faktor berikut perlu ditambahkan.
|
Kondisi |
Tambahan Waktu |
| Musim hujan | 10–15% |
| Pekerjaan di lantai 2 ke atas (angkut manual) | 10–20% |
| Tenaga kerja belum terlatih | 15–25% |
| Lokasi sempit / akses material sulit | 10% |
| Desain rumit, banyak detail lengkung | 15–30% |
Curah hujan di Sumatera Utara membuat faktor pertama hampir selalu relevan. Strategi menyiasatinya saya bahas di tips bangun rumah di musim hujan.
Setelah jumlah orang ketemu, angka OH tadi bisa langsung dikalikan upah harian untuk mendapat biaya tenaga kerja.
Kisaran upahnya bisa dilihat di upah tukang bangunan, dan cara menyatukannya ke dalam RAB ada di cara menghitung biaya bangun rumah.
4 Kesalahan saat Menghitung Kebutuhan Tenaga Kerja
- Menyamakan hari kerja dengan hari kalender. Selisih 4–5 hari per bulan terlihat kecil, tapi pada proyek 6 bulan menjadi hampir satu bulan penuh.
- Mengabaikan pekerjaan persiapan. Bongkar muat material, pembuatan bedeng, dan pembersihan lokasi memakan OH tapi sering luput dari perhitungan kebutuhan tenaga kerja.
- Menumpuk terlalu banyak orang di area sempit. Produktivitas justru turun karena tukang saling menunggu ruang kerja dan alat. Ketersediaan alat tukang bangunan sering jadi pembatas riil, bukan jumlah orangnya.
- Memakai koefisien tunggal untuk semua kondisi. Rumah dua lantai dengan akses tangga jelas berbeda dari rumah satu lantai.
Menguasai cara menghitung kebutuhan tenaga kerja mengubah penyusunan jadwal dari tebakan menjadi keputusan berbasis angka.
Kuncinya cuma tiga, volume yang benar, koefisien yang sesuai spesifikasi, dan target durasi yang realistis dalam satuan hari kerja.
Perlakukan hasil hitungan sebagai kerangka, bukan harga mati. Tambahkan faktor koreksi lapangan, lalu bandingkan dengan realisasi mingguan.
Selisih antara rencana dan kenyataan itulah yang paling berharga dari situ Anda akan punya koefisien versi sendiri yang jauh lebih akurat untuk proyek berikutnya.
Langkah ini melengkapi perencanaan menyeluruh yang saya uraikan di tahapan membangun rumah.
Artikel ini bersifat edukatif. Koefisien yang dikutip berasal dari SNI dan pedoman AHSP resmi, namun realisasi di lapangan dapat berbeda menurut lokasi, keterampilan tenaga kerja, cuaca, dan metode kerja. Untuk proyek dengan nilai besar atau kontrak pemerintah, gunakan AHSP terbaru yang berlaku.
Topik
- jumlah tukang yang dibutuhkan
- koefisien tenaga kerja SNI
- rumus menghitung tenaga kerja proyek
Bacaan Lain
Masih seputar tips
-
Tips
Berapa Untung Kontraktor? Ini 7 Fakta Jujur dari Lapangan
Berapa untung kontraktor dari sebuah proyek? Jawaban singkatnya, margin kotor kontraktor rumah tinggal umumnya berada…
· 6 menit baca
-
Tips
Cara Mengatasi Tembok Mengelupas dan Lembab, 7 Langkah Ampuh
Cara mengatasi tembok mengelupas dan lembab yang benar selalu dimulai dari satu hal, yaitu menemukan dari mana air…
· 8 menit baca
-
Tips
Biaya Pembuatan Dak Lantai 2 per Meter 2026, 5 Rincian Hemat
Biaya pembuatan dak lantai 2 per meter di Medan pada tahun 2026 berkisar Rp 650.000 sampai Rp 1.250.000 per meter…
· 7 menit baca
Artikel memberi gambaran. Rumah Anda butuh hitungannya sendiri.
Survey lokasi dan konsultasi awal tidak dipungut biaya. Dari situ baru muncul angka yang benar-benar berlaku untuk lahan dan kebutuhan Anda.