Berapa Untung Kontraktor? Ini 7 Fakta Jujur dari Lapangan
Berapa untung kontraktor dari sebuah proyek? Jawaban singkatnya, margin kotor kontraktor rumah tinggal umumnya berada di kisaran 15–25% dari nilai kontrak, tetapi setelah dipotong overhead…
Achsan Bana ST 6 menit baca
Berapa untung kontraktor dari sebuah proyek?
Jawaban singkatnya, margin kotor kontraktor rumah tinggal umumnya berada di kisaran 15–25% dari nilai kontrak, tetapi setelah dipotong overhead kantor, pajak, risiko, dan masa pemeliharaan.
Laba bersih yang benar-benar masuk kantong biasanya tinggal 5–12%. Angka di bawah 5% pun bukan hal aneh, terutama pada proyek yang molor.
Banyak pemilik rumah kaget waktu tahu selisih ini. Dikira kontraktor mengambil separuh dari uang yang dibayarkan.
Padahal sebagian besar dana itu hanya lewat, berpindah ke toko material dan ke kantong tukang.
Di artikel ini saya bedah berapa untung kontraktor apa adanya, dari mana asalnya, apa saja yang menggerusnya, plus simulasi lengkap satu proyek rumah dua lantai.
Tujuannya supaya Anda sebagai pemilik proyek bisa menilai penawaran dengan lebih adil, dan bagi rekan-rekan yang baru merintis usaha konstruksi, bisa tahu di titik mana laba biasanya bocor.
Berapa Untung Kontraktor secara Realistis?
Sebelum bicara persentase, kita perlu sepakat dulu: kontraktor bukan penjual barang.
Kontraktor menjual jasa mengelola risiko, waktu, tenaga kerja, dan mutu. Karena itu strukturnya berbeda dengan toko bangunan yang mengambil untung per sak semen.
Dari pengalaman saya mengelola proyek residensial dan ruko di Medan dan sekitarnya selama 13 tahun, pola margin yang wajar kira-kira begini.
| Jenis Pekerjaan | Margin Kotor |
Perkiraan Laba Bersih |
| Bangun rumah baru (borongan penuh) | 15–22% | 7–12% |
| Renovasi rumah tinggal | 18–28% | 8–15% |
| Ruko / bangunan komersial kecil | 12–18% | 5–10% |
| Proyek tender pemerintah/swasta besar | 8–15% | 3–7% |
Terlihat polanya makin besar nilai proyek, makin tipis persentase untungnya. Yang membesar adalah nominalnya, bukan rasionya.
Renovasi justru bermargin lebih tinggi karena volumenya kecil tapi risikonya besar, banyak kondisi tak terduga di balik dinding lama, seperti yang saya bahas di tahapan renovasi rumah.
Bedakan Margin Kotor dan Laba Bersih
Ini sumber salah paham paling sering. Ketika seseorang menyebut untungnya 20%, biasanya yang dimaksud margin kotor, nilai kontrak dikurangi material dan upah tukang saja.
Padahal margin kotor itu belum bersih. Dari situ masih harus keluar biaya kantor, pajak, garansi, dan cadangan risiko.
Laba bersih adalah sisa terakhir setelah semua itu dibayar dan itulah jawaban sesungguhnya dari pertanyaan berapa untung kontraktor.
7 Komponen yang Menggerus Untung Kontraktor
1. Material (50–60% nilai kontrak)
Porsi terbesar dan paling rawan. Harga besi, semen, dan keramik bisa bergerak dalam hitungan minggu. Kalau kontrak sudah diteken dengan harga lump sum, kenaikan itu ditanggung kontraktor.
Cara menakar volumenya saya jelaskan di cara menghitung kebutuhan material bangunan.
2. Upah Tenaga Kerja (20–25%)
Tukang, kepala tukang, dan mandor. Kalau pekerjaan molor, upah harian terus jalan sementara nilai kontrak tetap.
Rentang upahnya bisa Anda cek di upah tukang bangunan.
3. Overhead Proyek (5–8%)
Listrik dan air kerja, direksi keet, sewa scaffolding dan molen, keamanan, transport material, konsumsi, sampai pembuangan puing.
Kecil-kecil tapi jumlahnya nyata dan sering bocor tanpa di ketahui dan di sadari.
4. Overhead Kantor (4–6%)
Gaji drafter, estimator, admin, sewa kantor, dan biaya survei ke calon klien yang belum tentu jadi.
Biaya ini jalan terus walau tidak ada proyek berjalan.
5. Pajak
Pekerjaan konstruksi dikenai PPh bersifat final dipotong dari nilai kontrak, bukan dari laba.
Artinya, untung atau rugi, pajak tetap dibayar penuh.
6. Masa Pemeliharaan dan Retensi
Umumnya 3–6 bulan setelah serah terima, dengan retensi 5% nilai kontrak yang ditahan pemilik.
Selama periode itu, perbaikan bocor atau retak rambut jadi tanggungan pelaksana.
7. Risiko yang Tidak Kelihatan
Hujan panjang, tanah labil, gambar berubah di tengah jalan, klien telat bayar termin. Perusahaan yang sehat selalu menyisihkan 2–4% sebagai cadangan.
Yang tidak menyisihkan, biasanya berakhir dengan proyek mangkrak.
Simulasi Berapa Untung Kontraktor di Proyek Rp 600 Juta
Mari pakai contoh nyata: rumah dua lantai, luas bangunan 120 m², sistem borongan penuh, nilai kontrak Rp 600.000.000 (sekitar Rp 5 juta/m²).
Untuk durasi kerja selama 6 bulan, pelaksana atau kontraktor memiliki SBU kualifikasi kecil.
|
Komponen |
Persentase |
Nominal |
| Nilai kontrak | 100% | Rp 600.000.000 |
| Material | 55% | (Rp 330.000.000) |
| Upah tenaga kerja | 22% | (Rp 132.000.000) |
| Margin kotor | 23% | Rp 138.000.000 |
| Overhead proyek | 6% | (Rp 36.000.000) |
| Overhead kantor | 5% | (Rp 30.000.000) |
| PPh final 1,75% | 1,75% | (Rp 10.500.000) |
| Cadangan risiko & garansi | 3% | (Rp 18.000.000) |
| Laba bersih | ±7,25% | Rp 43.500.000 |
Margin kotornya memang Rp. 138 juta dan terdengar besar.
Tapi laba bersih akhirnya Rp 43,5 juta untuk kerja 6 bulan, atau sekitar Rp 7,2 juta per bulan dan itu belum dibagi ke pemilik usaha bila ada beberapa partner.
Sekarang lihat betapa tipisnya angka itu.
- Proyek molor 2 bulan → overhead bertambah ±Rp 12 juta → laba tinggal Rp 31,5 juta (5,25%)
- Harga material naik 5% di tengah jalan → tambahan Rp 16,5 juta → laba tinggal Rp 27 juta (4,5%)
- Kedua-duanya terjadi bersamaan → laba tersisa Rp 15 juta, atau 2,5% dari nilai kontrak
Inilah alasan pelaksana berpengalaman sangat berhati-hati soal jadwal dan klausul eskalasi harga.
Detail yang wajib ada dalam perjanjian saya rangkum di kontrak dengan kontraktor.
Pajak yang Memotong Untung Kontraktor
Berdasarkan PP Nomor 9 Tahun 2022 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha Jasa Konstruksi, tarif PPh final yang berlaku adalah.
|
Jenis Jasa |
Kualifikasi |
Tarif |
| Pekerjaan konstruksi | SBU kualifikasi kecil / sertifikat kompetensi kerja perseorangan | 1,75% |
| Pekerjaan konstruksi | Selain kualifikasi kecil (menengah & besar) | 2,65% |
| Pekerjaan konstruksi | Tanpa SBU / sertifikat kompetensi | 4% |
| Konstruksi terintegrasi | Memiliki SBU | 2,65% |
| Konstruksi terintegrasi | Tanpa SBU | 4% |
| Konsultansi (perencanaan/pengawasan) | Memiliki sertifikat | 3,5% |
| Konsultansi (perencanaan/pengawasan) | Tanpa sertifikat | 6% |
Perhatikan selisihnya, pelaksana tanpa sertifikat dikenai 4%, sementara yang ber-SBU kecil hanya 1,75%.
Pada kontrak Rp 600 juta, bedanya Rp 13,5 juta, hampir sepertiga laba bersih di simulasi tadi.
Sertifikat badan usaha diterbitkan melalui LPJK Kementerian PU, dan alasannya penting saya ulas di menggunakan kontraktor berlisensi.
Kenapa Untung Kontraktor sering Habis di Tengah Jalan
Dari yang saya amati, laba paling sering bocor karena empat hal.
- Estimasi terlalu optimistis, volume dihitung buru-buru demi mengejar penawaran termurah. Metode hitungnya bisa dipelajari di cara menghitung biaya bangun rumah.
- Perubahan desain tanpa adendum, klien minta ubah posisi kamar mandi, pelaksana sungkan menagih tambahan. Sekali dua kali masih tertutup kalau sepuluh kali, laba habis.
- Termin macet, material ditalangi pakai modal sendiri, arus kas seret, kerja melambat, biaya membengkak.
- Banting harga demi menang, ambil proyek dengan margin 5% lalu berharap tidak ada masalah. Di lapangan, selalu ada masalah.
Poin terakhir ini juga jadi alasan penawaran yang terlalu murah patut dicurigai, ciri-cirinya saya bahas di terhindar dari jasa kontraktor nakal.
Borongan vs Harian, Mana yang Untungnya Lebih Sehat?
Pada sistem borongan penuh, seluruh risiko harga dan waktu dipegang pelaksana, sehingga margin dipasang lebih tebal dan itu wajar.
Pada sistem harian atau cost plus fee, yang diambil hanya fee manajemen 8–15% dari biaya riil, dengan risiko jauh lebih kecil tapi laba yang lebih datar.
Buat pemilik rumah, borongan berarti kepastian angka, harian berarti transparansi biaya tapi plafon anggaran terbuka.
Perbandingan lengkapnya ada di bangun rumah borongan atau harian.
Jawaban atas pertanyaan berapa untung kontraktor bukan angka tunggal, melainkan rentang kotor 15–25%, bersih 5–12%.
Sisanya habis untuk material, upah, overhead, pajak final, dan cadangan risiko yang jarang terlihat dari luar.
Bagi pemilik proyek, memahami struktur ini membantu menilai penawaran secara proporsional, penawaran termurah belum tentu paling menguntungkan.
Karena margin yang terlalu tipis justru sering berujung pada mutu yang dikorbankan atau proyek yang berhenti di tengah jalan.
Artikel ini bersifat edukatif. Angka margin dan simulasi merupakan kisaran umum berdasarkan praktik lapangan di wilayah Sumatera Utara dan dapat berbeda menurut lokasi, spesifikasi, serta kondisi pasar material. Untuk urusan perpajakan, rujuk peraturan terbaru atau konsultan pajak.
Topik
- biaya overhead kontraktor
- margin keuntungan kontraktor
- untung jasa kontraktor
Bacaan Lain
Masih seputar tips
-
Tips
Cara Menghitung Kebutuhan Tenaga Kerja, 5 Langkah Akurat
Cara menghitung kebutuhan tenaga kerja proyek konstruksi sebenarnya bertumpu pada satu rumus sederhana, volume…
· 6 menit baca
-
Tips
Cara Mengatasi Tembok Mengelupas dan Lembab, 7 Langkah Ampuh
Cara mengatasi tembok mengelupas dan lembab yang benar selalu dimulai dari satu hal, yaitu menemukan dari mana air…
· 8 menit baca
-
Tips
Biaya Pembuatan Dak Lantai 2 per Meter 2026, 5 Rincian Hemat
Biaya pembuatan dak lantai 2 per meter di Medan pada tahun 2026 berkisar Rp 650.000 sampai Rp 1.250.000 per meter…
· 7 menit baca
Artikel memberi gambaran. Rumah Anda butuh hitungannya sendiri.
Survey lokasi dan konsultasi awal tidak dipungut biaya. Dari situ baru muncul angka yang benar-benar berlaku untuk lahan dan kebutuhan Anda.